Perdana, Petani "Losari" Ponorogo Gelar Sedekah Bumi di Tengah Sawah, Wujud Syukur dan Harapan Panen Melimpah
Perdana, Petani "Losari" Ponorogo Gelar Sedekah Bumi di Tengah Sawah, Wujud Syukur dan Harapan Panen Melimpah
PONOROGO, Media Jatim News – Pemandangan berbeda terlihat di hamparan persawahan perbatasan Desa Karanglo Kidul dan Desa Sukosari, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, pada Rabu (13/5) pagi.
Puluhan petani yang tergabung dalam paguyuban "Masyarakat Petani Losari" berkumpul menggelar tradisi sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Kegiatan yang berlangsung khidmat di area terbuka ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Karanglo Kidul, Islami, SH, beserta jajaran perangkat desa dan perwakilan Dinas Pertanian Kecamatan Jambon.
Murni Kesadaran Masyarakat, Tanpa Iuran
Ada hal unik dalam pelaksanaan sedekah bumi kali ini. Pardi, salah satu petani asal Desa Karanglo Kidul, mengungkapkan bahwa acara ini merupakan inisiatif murni dari para petani tanpa adanya pungutan biaya atau iuran wajib.
"Ini adalah kegiatan perdana kami. Semuanya atas dasar kesadaran dan ketulusan hati para petani sendiri. Kami membawa perlengkapan masing-masing, mulai dari nasi, lauk-pauk, hingga ayam ingkung dari rumah," ujar Pardi dengan wajah sumringah.
Pardi menambahkan bahwa ritual ini bukan sekadar kumpul-kumpul makan bersama, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam bagi keberlangsungan hidup mereka.
"Niatannya satu, kami memohon doa agar padi yang kami tanam tumbuh subur, dijauhkan dari hama, dan nantinya memberikan hasil panen yang melimpah ruah. Inilah cara kami mengetuk pintu langit melalui sedekah," tambahnya.
Inspirasi dan Sarana Silaturahmi
Kepala Desa Karanglo Kidul, Islami, SH, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap kekompakan warga dua desa tersebut. Menurutnya, kerukunan yang ditunjukkan oleh kelompok "Petani Losari" sangat menginspirasi.
"Saya sangat terharu dan bangga melihat semangat gotong royong ini. Kegiatan ini sangat menginspirasi karena muncul dari inisiatif arus bawah. Tidak hanya soal doa untuk pertanian, tapi ini adalah sarana silaturahmi yang luar biasa antar sesama petani," ungkap Islami.
Ia berharap tradisi positif ini tidak berhenti di tahun ini saja, melainkan menjadi agenda rutin yang terus dilestarikan.
"Semoga kegiatan ini bisa dilaksanakan setiap tahun. Jika petani rukun dan kompak seperti ini, insya Allah berkahnya akan dirasakan oleh seluruh desa. Kami dari pemerintah desa akan selalu mendukung langkah-langkah positif seperti ini," pungkasnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan makan bersama di pinggir sawah, menciptakan suasana kekeluargaan yang erat di bawah terik matahari pagi yang mulai meninggi. (nur).


