Krisis Buruh Tani di Ponorogo: Janji Manis Berujung "PHP", Sunyoto Terpaksa Turun ke Lumpur Sendirian
Krisis Buruh Tani di Ponorogo: Janji Manis Berujung "PHP", Sunyoto Terpaksa Turun ke Lumpur Sendirian
PONOROGO, Media Jatim News – Modernisasi pertanian ternyata menyimpan sisi kelam bagi para petani lokal. Fenomena kelangkaan tenaga tanam padi (tandur) kini tengah menghantui para pemilik sawah di Kabupaten Ponorogo. Tak hanya sulit dicari, komitmen para pekerja pun kini kian sulit dipegang.
Nasib apes sekaligus melelahkan dialami oleh Sunyoto, seorang petani asal Desa Karanglo Kidul, Kecamatan Jambon, Ponorogo.
Di bawah terik matahari pada Rabu (6/5) sore, ia tampak berjibaku sendirian menancapkan bibit padi di lahan seluas satu kotak setengah atau sekitar 150 meter persegi miliknya di persawahan Losari (karanglo-sukosari).
Kena "PHP" Tenaga Tandur
Sunyoto mengaku sebenarnya sudah berupaya mencari tenaga borongan untuk membantu menggarap sawahnya. Namun, pekerja yang sudah berjanji akan datang justru tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Ya, pripun malih selain sulit pados tenaga tandur, niki sing pun semoyo saget, malah mboten dugi. Terpaksa kulo tandur piyambak," keluh Sunyoto dengan logat Jawa yang kental.
(Ya, bagaimana lagi, selain sulit mencari pekerja tandur, yang sudah janji mau datang malah tidak datang. Terpaksa saya tanam sendiri).
![]() |
Kejar Tayang Usia Benih
Keputusan Sunyoto untuk turun langsung ke lumpur bukan tanpa alasan. Ia merasa dikejar waktu karena usia persemaian benih padi miliknya sudah mencapai 25 hari.
Jika tidak segera dipindahkan ke lahan, bibit tersebut terancam rusak dan tidak akan tumbuh maksimal.
"Umur semaian benih padi sudah waktunya ditanam. Daripada rusak, ya lebih baik kita tanam sendiri saja meski capek," jelasnya sambil menyeka keringat.
Upah Mahal Bukan Jaminan
Kelangkaan tenaga kerja ini terjadi meski nilai upah borongan sebenarnya tergolong lumayan.
Di wilayah tersebut, biaya borongan untuk menanam padi di lahan ukuran satu kotak biasanya mencapai Rp300.000 yang lazimnya dikerjakan oleh empat orang tenaga kerja.
Namun, tingginya upah tersebut tetap tidak berbanding lurus dengan ketersediaan orang yang mau turun ke sawah.
Banyak generasi muda yang lebih memilih bekerja di sektor industri, meninggalkan para petani tua seperti Sunyoto berjuang sendirian menjaga ketahanan pangan di daerahnya.
Kisah Sunyoto adalah potret nyata bahwa di balik kemajuan teknologi pertanian, tantangan fisik dan ketersediaan sumber daya manusia masih menjadi "pekerjaan rumah" besar bagi dunia tani di Ponorogo. (nur).


