BREAKING NEWS

Viral, Curhat Pilu Akun Fb Aji Saputra Dibalik Tragedi Berdarah di Golan Ponorogo

Viral, Curhat Pilu Akun Fb Aji Saputra Dibalik Tragedi Berdarah di Golan Ponorogo


PONOROGO, Media Jatim News – Jagat maya dan warga Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, diguncang oleh tragedi memilukan yang diduga melibatkan hubungan darah antara ibu dan anak. 

Sebuah unggahan panjang dari akun Saputra Aji mendadak viral, mengungkap tabir gelap di balik aksi nekatnya yang diduga tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri, Nur Aini (55).

Bukan sekadar pengakuan dosa, tulisan tersebut merupakan manifestasi dari luka batin yang telah bernanah selama puluhan tahun. 

Sementara Adiknya bernama Moh. Gilang (21) membenarkan kalau akun FB itu benar milik kakaknya, dan penemuan sepeda motor dan tas di wilayah Gunung Kidul juga benar. 

"Saya berharap kakaknya bisa ditemukan dalam keadaan sehat, sehingga bisa mempertanggungkan perbuatannya," ungkapnya, Rabu (28/1)

Berikut adalah rangkuman narasi getir yang ditulis oleh Aji sebelum ia memutuskan untuk mengakhiri segalanya.


Trauma Masa Kecil yang Tak Pernah Sembuh

Aji mengawali tulisannya dengan nada yang sangat kontradiktif: penuh kasih namun sekaligus penuh keputusasaan. 

Ia menyatakan kesiapannya untuk menggantikan posisi ibunya di neraka dan menanggung seluruh dosa sang ibu. Namun, di balik kerelaan itu, tersembunyi dendam atas luka lama yang tak pernah mendapatkan kata maaf.

"Aku tidak bisa menyelesaikan masalah utamaku dengan ibu karena ibu tidak pernah merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukan kepadaku sewaktu aku masih kecil dulu," tulisnya. 

Bagi Aji, sosok ibu yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi sumber ketakutan yang nyata. Trauma itu ia sebut tetap melekat dan menjadi kutukan yang mempengaruhi setiap jengkal langkah hidupnya.

Delapan tahun merantau di Bali, Aji memutuskan pulang ke Ponorogo dengan secercah harapan untuk memperbaiki hubungan. Namun, yang ia dapati justru sebaliknya. Kepulangannya justru menjadi pembuka kotak pandora yang menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.


Rahasia Kelam dan Sadap WhatsApp

Dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan di rumah, Aji mengaku menemukan fakta yang menghancurkan hatinya. 

Melalui cara yang ekstrem, menyadap aplikasi pesan singkat sang ibu, ia mengeklaim menemukan sisi gelap kehidupan ibunya yang selama ini tidak ia ketahui.

Ia merasa terabaikan dan tidak dianggap penting. Puncaknya, ia merasa sangat terpukul setelah mengetahui status asal-usul dirinya. 

Kekecewaan itu kian memuncak saat ia mendapati kenyataan mengenai perilaku sang ibu yang ia anggap tidak bermoral.

"Aku merasa sudah tidak tahan, semakin sangat putus asa. Kenapa Tuhan menuntunku untuk mengetahui semua ini?" keluhnya dalam tulisan tersebut. 

Ia merasa terjebak dalam dilema antara keinginan untuk melindungi kehormatan ibunya dan rasa jijik atas kenyataan yang ia temukan.


Dalih 'Membebaskan' Ibu dan Isyarat Akhir Hayat

Aji menganggap tindakan kejinya sebagai jalan pintas untuk "membebaskan" sang ibu dari sifat-sifat buruk.

Dalam logika yang bengkok akibat tekanan mental, ia merasa kegagalannya menjadi orang baik adalah sebuah "kesalahan sistem".

Tanpa merinci bagaimana aksi pembunuhan itu dilakukan karena merasa terlalu ngeri untuk diceritakan kembali, Aji menutup unggahannya dengan pesan terakhir yang sangat kelam. 

Ia menyatakan tidak akan menyerahkan diri ke jalur hukum konvensional, melainkan memilih "keadilannya" sendiri.

"Tuhan menuntunku ke sini dan aku akan menenggelamkan diriku... dengan laut selatan," tulisnya, mengisyaratkan niat untuk mengakhiri hidup.


Pesan Terakhir untuk Warga

Di akhir narasi yang menggetarkan tersebut, Aji masih sempat menitipkan pesan kepada masyarakat untuk membantu proses pemakaman ibunya dengan layak. Ia juga memohon maaf atas segala kesalahan yang dilakukan olehnya maupun ibunya semasa hidup.

Kini, unggahan tersebut menjadi bukti digital yang krusial bagi pihak kepolisian untuk mendalami motif di balik tragedi berdarah di Desa Golan. 

Sebuah kisah tragis tentang bagaimana komunikasi yang terputus dan trauma masa kecil yang tak tertangani bisa berujung pada akhir yang paling mengerikan dalam sebuah keluarga.

Kasus ini sedang dalam penanganan pihak kepolisian setempat. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami tekanan mental atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi layanan kesehatan jiwa atau profesional medis terdekat (*)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar