Siapkan Reog Ramah Anak, Langkah DKP Ponorogo Jamin Keberlanjutan Warisan Budaya Tak Benda Dunia
Siapkan Reog Ramah Anak, Langkah DKP Ponorogo Jamin Keberlanjutan Warisan Budaya Tak Benda Dunia
PONOROGO, Media Jatim News – Status mentereng sebagai bagian dari Jaringan Kota Kreatif Dunia (UCCN) dan pengakuan UNESCO terhadap Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Tak Benda membawa tanggung jawab besar.
Bergerak cepat, Dewan Kesenian Ponorogo (DKP) melakukan koordinasi intensif dengan Plt Bupati Ponorogo untuk menyelaraskan langkah dalam menjaga marwah budaya Bumi Reog.
Mengawal 7 Amanat UNESCO dan Bahan Baku
Ketua DKP, Wisnu HP, menegaskan bahwa sinergitas antara penggiat seni dan pemerintah adalah kunci. Salah satu poin krusial yang dibahas adalah regulasi mengenai bahan baku Reog.
Mengingat standar internasional yang ketat, kepastian regulasi bahan baku menjadi fondasi agar ekosistem pembuatan instrumen dan atribut Reog tetap lestari tanpa menabrak aturan hukum.
Reog Ramah Anak: Investasi Regenerasi
Inovasi menarik muncul dari usulan DKP mengenai Festival Reog Anak. Berbeda dengan pertunjukan dewasa, festival ini akan dikemas khusus sesuai usia perkembangan anak tanpa menonjolkan sisi kedewasaan yang terlalu dini.
"Ini adalah langkah strategis untuk implementasi 7 poin UNESCO. Kita ingin regenerasi berjalan alami, di mana anak-anak mencintai Reog dengan cara yang sesuai dengan dunia mereka," ujar Wisnu HP.
Membangkitkan 'Raksasa Tidur' Kesenian Otentik
Tak hanya terpaku pada Reog, DKP juga mendorong Pemerintah Kabupaten untuk memberi panggung lebih luas bagi kesenian otentik lainnya yang mulai langka.
Kesenian seperti Gong Gumbeng, Musik Odrot, Gembrung, Gajah-gajahan, Unta-untanan, hingga Tari Keling diharapkan mendapatkan ruang ekspresi yang setara.
Langkah ini bertujuan agar identitas Ponorogo sebagai Kota Kreatif Dunia tidak hanya bertumpu pada satu ikon, melainkan pada keragaman hayati budayanya yang kaya.
Dengan sinergitas yang terjaga, Ponorogo siap membuktikan pada dunia bahwa pengakuan UNESCO bukanlah titik akhir, melainkan awal dari kebangkitan budaya yang lebih sistematis dan berkelanjutan. (nur/m.kus)

