Mengulik Sejarah Jujitsu di Ponorogo Bersama Ketua IJI, Muryanto, DAN VII, Dari Bela Diri Militer Jepang Hingga Menjadi "Seni Kuncian" yang Komplet
Mengulik Sejarah Jujitsu di Ponorogo Bersama Ketua IJI, Muryanto, DAN VII, Dari Bela Diri Militer Jepang Hingga Menjadi "Seni Kuncian" yang Komplet
PONOROGO, Media Jatim News – Tak banyak yang menyadari bahwa Kabupaten Ponorogo memiliki jejak sejarah yang mendalam bagi perkembangan bela diri Jujitsu di Indonesia.
Dalam sebuah wawancara khusus, Ketua Institut Jujitsu Indonesia (IJI) Kabupaten Ponorogo, Muryanto, S.Pd., Sabuk Merah Putih DAN VII, membedah perjalanan panjang bela diri ini serta filosofi yang membuatnya tetap eksis hingga kini.
Jejak Sejarah: Dari Kalimalang ke Ponorogo
Muryanto mengisahkan bahwa cikal bakal Jujitsu di Indonesia tidak lepas dari peran Raden Sutopo. Pada masa penjajahan Jepang, beliau menyerap langsung ilmu Jujitsu dari tentara Jepang.
"Dulu waktu Mbah Topo (Raden Sutopo) menerima langsung ilmu Jujitsu dari tentara Jepang, beliau adalah tentara Kaigun. Karena kedekatan itu, ilmu ini bisa berkembang," ujar Muryanto, Sabtu (3/1/2026) di rumah SM LAW OFFICE Suryo Alam Mega Aprilia bagian HUKUM IJI Cab. Ponorogo.
Ia mengenang masa-masa awal latihan pada tahun 1981 di Kalimalang, Sukorejo, sebelum akhirnya Jujitsu berkembang pesat di wilayah Tegalsari hingga menyebar ke seluruh pelosok Ponorogo. Menariknya, Jujitsu di Indonesia tumbuh sebagai perpaduan yang komplet.
"Murid-murid Mbah Topo itu ada yang sudah bisa silat, ada yang dari karate, ada yang gulat. Semua itu dijadikan satu, jadilah Persatuan Jujitsu Indonesia (PJI)," tambah Mbah Beru sapaan akrab Muryanto yang juga Ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Ponorogo.
Keunggulan: Ilmu Kuncian yang Mematikan
Salah satu daya tarik utama Jujitsu yang membedakannya dengan bela diri lain adalah teknik kuncian. Muryanto menjelaskan bahwa Jujitsu Indonesia memiliki karakteristik yang lebih kaya dibandingkan versi luar negeri (seperti Brazilian Jiu-Jitsu atau Gracie).
"Kunci Jujitsu Indonesia itu paling bagus. Kalau di luar negeri mungkin hanya fokus pada kuncian, di kita sudah ditambah. Ada unsur karate, silat, dan gulat yang digabung. Makanya gerakannya lebih komplet," jelas penyandang sabuk Merah Putih DAN VII ini.
Menurutnya, Jujitsu adalah solusi bagi orang yang bertubuh kecil untuk menghadapi lawan yang lebih besar melalui teknik leverage (daya ungkit) dan kuncian persendian yang efektif.
Perbedaan IJI dan PBJI
Dalam kesempatan tersebut, Muryanto juga meluruskan perbedaan antara IJI (Institut Jujitsu Indonesia) dan PBJI (Pengurus Besar Jujitsu Indonesia).
Ia menjelaskan bahwa IJI lebih menitikberatkan pada pelestarian tradisi dan teknik asli (self-defense), sementara PBJI bergerak di bawah naungan KONI untuk ranah prestasi atau olahraga kompetisi.
"Di PBJI karena aturan internasional, pukul terlalu keras bisa didiskualifikasi. Tapi kalau di IJI, teknik njeblok (membanting) dan kuncian langsung bisa menghasilkan poin penuh atau kemenangan mutlak," tuturnya.
Pesan untuk Generasi Muda: "Sregep" dan Konsisten
Menutup perbincangan, Muryanto menekankan pentingnya karakter bagi para jujitsan (praktisi jujitsu). Baginya, keahlian teknik harus dibarengi dengan kedisiplinan dan kejujuran.
"Saya menilai bocah itu sregep (rajin) apa tidak, plin-plan apa tidak. Kalau memang orangnya bersungguh-sungguh, pasti kita dukung sampai jadi. Tapi kalau hanya main-main, ya tidak kita rekomendasikan," tegasnya.
Saat ini, Jujitsu di Ponorogo telah merambah ke berbagai instansi, mulai dari kepolisian hingga kedinasan, membuktikan bahwa bela diri ini tetap relevan baik untuk pertahanan diri maupun pembentukan karakter aparat dan masyarakat sipil. (nur).



