BREAKING NEWS

Sambut Grebeg Suro: Kontainer Toilet Jadi Mahakarya Mural Sejarah Ponorogo & Darurat Sampah

Sambut Grebeg Suro: Kontainer Toilet Jadi Mahakarya Mural Sejarah Ponorogo & Darurat Sampah


PONOROGO, Media Jatim News – Ada yang berbeda di sekitar area Alun-Alun Ponorogo menjelang perhelatan akbar Grebeg Suro 2026. 

Sebuah kontainer toilet yang terletak strategis di bawah rindangnya pohon beringin (ringin) sebelah barat tribun penonton, kini tampil nyentrik dan mencuri perhatian warga. 

Fasilitas publik yang dulunya tampak kusam dengan cat terkelupas, kini disulap menjadi sebuah mahakarya seni mural penuh warna yang sarat akan pesan budaya dan lingkungan.

Aksi kreatif ini diinisiasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ponorogo melalui Bidang Pengelolaan Sampah dan Pertamanan (PSP). 

Langkah ini diambil bukan hanya untuk mempercantik estetika kota menyambut para wisatawan Grebeg Suro, tetapi juga sebagai ruang berekspresi bagi seniman lokal sekaligus media edukasi bagi masyarakat.

Proses transformasi fisik kontainer ini memakan waktu selama 10 hari penuh. 

DLH Ponorogo menggandeng komunitas Cokro Sketsa yang dipimpin oleh Mas Kukuh, serta melibatkan seorang seniman blasteran Ponorogo-Portugal, Brian.

"Daripada hanya ditutup stiker biasa, kami berpikir alangkah baiknya merangkul teman-teman pegiat mural agar mereka punya ruang. Kami mencoba melakukan sosialisasi program lewat jalur seni," ujar Rahmat Septian, Staf Bidang PSP DLH Ponorogo saat ditemui di lokasi.

Bukan Sekadar Estetika: Ada Pesan Darurat Sampah dan Sejarah lokal

Jika dicermati, setiap jengkal dinding kontainer toilet ini menyimpan narasi yang mendalam. 

Visual utamanya mengangkat tema "Gugur Gunung" (Kerja Bakti), sebuah konsep gotong royong yang digambarkan melalui tokoh-tokoh Reog Ponorogo. 

Tampak Prabu Klono Sewandono menginstruksikan jajarannya—mulai dari Pujangga Anom, Jathil, hingga para Warok—untuk bahu-membahu menjaga kebersihan dan memilah sampah.

Pesan ini sengaja digencarkan mengingat tahun ini TPA Mrican direncanakan akan ditutup, sementara TPA baru masih dalam tahap persiapan. 

Melalui mural ini, masyarakat diingatkan bahwa pengurangan volume sampah hingga titik nol (zero waste) adalah tanggung jawab bersama agar Ponorogo terhindar dari bencana penumpukan sampah.

Selain tema lingkungan, di sisi lain kontainer juga tergambar megahnya Monumen Reog serta visualisasi Sate Ayam Ponorogo. 

Menariknya, mural sate ini juga membawa misi meluruskan sejarah. 

Dengan menggambarkan kaos garis merah-putih khas, para seniman ingin mengingatkan kembali identitas budaya Ponorogo yang memiliki akar kekerabatan erat dengan Madura (melalui kisah Bathoro Katong dan Aryo Jaran Panoleh), yang kerap kali salah dipahami oleh orang awam.

Pengerjaan mural ini diakui memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. 

Permukaan kontainer toilet yang bergelombang dan tidak rata menjadi tantangan tersendiri bagi para seniman dalam menjaga proporsi gambar. 

Jika dilihat dari depan, gambar tampak sempurna, namun lekukan kontainer bisa mendistorsi visual jika dilihat dari sudut samping. Namun, berkat ketelatenan para seniman, tantangan teknis tersebut berhasil diatasi dengan sangat apik.

Kini, kontainer toilet di bawah pohon ringin barat tersebut siap menyambut ratusan ribu pasang mata penonton Grebeg Suro 2026. 

Kehadirannya membuktikan bahwa fasilitas sanitasi pun bisa tampil naik kelas, edukatif, dan menjadi spot foto yang menarik tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai fasilitas publik yang ramah. (mas)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar