SURABAYA MARI BERKACA Sajak ini kutulis dengan Geram: (Tepat 28 tahun setelah Reformasi)
SURABAYA MARI BERKACA
Sajak ini kutulis dengan Geram:
(Tepat 28 tahun setelah Reformasi)
Di jantung kota di bawah langit Surabaya yang menyimpan gema langkah masa lampau berdiri bangunan tua yang tak dibangun hanya dari batu bata Tapi juga dengan darah dan sejarah
Dulu pernah dituliskan: Anjing dan Pribumi dilarang Masuk!!
Tulisan itu melahirkan air mata dan keyakinan bahwa peradaban adalah Masa depan bagi yang berjiwa muda
Di sanalah Dewan Kesenian Surabaya berada bukan sekadar noktah kota
Melainkan halaman ingatan tempat suara-suara berjiwa muda menemukan bentuk tempat puisi belajar berjalan tempat lukisan belajar bicara tempat teater mengetuk nurani
Tempat musik menyalakan jiwa kota Dan tari menggerakkan jiwa
Dari rahimmu lahir nama-nama besar yang menjadikan kata bagai peluru kanvas bagai doa panggung bagai cermin zaman.
Mereka datang bersahaja tetapi pulang membawa cahaya menerangi lorong-lorong gelap negri
Di Selasarmu gagasan berjumpa keberanian
Di dindingmu sejarah menempel seperti embun
Di lantaimu jejak juang terdengar meski kaki-kaki mereka telah lama pergi.
Tetapi kini engkau berdiri seperti pengantin yang dikhianati Orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan kota datang dengan map dan stempel dengan tabel dan angka dengan bahasa pemerintahan yang miskin imajinasi.
Menakar nilai Peradaban dengan logika pendapatan Serta bertanya: seberapa untungnya? Seberapa hasilnya? Seberapa rupiahnya?
Tapi tak ada tanya: berapa jiwa yang terselamatkan?
Berapa anak yang menemukan mimpinya? Berapa generasi yang terhindar dari kehampaan hidup serba instan dan dangkal?
Mungkin para petinggi kota hilang ingatan bahwa peradaban tidak pernah lahir dari mesin cetak
Ia tumbuh dari keberanian untuk merawat yang tak kasatmata Serta memahami cikal masa depan
Mungkin mereka tak paham DKS semacam oase di tengah kota yang semakin haus
Ketika gedung-gedung makin menjulang sementara jiwa penghuninya makin merunduk
Menyediakan ruang bagi mereka yang percaya bahwa manusia lebih dari sekadar angka statistik
Tetapi masa depanmu kini terancam
Tangan-tangan penista peradaban menganggapmu hanya predikat Tanpa subyek Serta tak bisa jadi Objek administrasi semacam komoditas yang dengan gampang bisa dibuang tanpa hirau denyut sejarahmu.
Mereka tak memahami bahwa jika engkau dibuang yang runtuh bukan sekedar papan nama melainkan jembatan masa lalu dan masa depan.
Jika pintumu ditutup Yang terusir bukan hanya penghuninya tetapi juga harapan, cita-cita dan imajinasi peradaban kota
Jika cahaya sejarahmu dipadamkan yang gelap bukan hanya namamu Tapi jiwa kota ini.
Berkacalah...duli tuanku penguasa kota
Berkacalah pada dinding tua Balai Pemuda yang telah lebih lama hidup daripada masa jabatanmu.
Berkacalah pada anak-anak yang datang dengan mata berbinar mencari panggung agar menjadi manusia utuh di masa depan
Berkacalah pada sejarah bahwa kota besar bukan hanya dibangun oleh dinding-dinding beton Tetapi oleh peradaban yang mengajarkan warganya tentang estetika, etika dan puitika
Dan engkau Dewan Kesenian Surabaya Jangan tunduk Tetaplah berdiri bak rumah bagi para pemimpi bak benteng bagi nurani bak mercusuar di tengah lautan bagi kapal di tengah gulita mencari arah
Sebab selama masih ada satu penyair yang menulis satu pelukis yang berkarya satu aktor yang bersuara satu anak bajang yang percaya bahwa seni dapat mengubah dunia, engkau akan tetap hidup.
Bukan sebagai papan nama tua melainkan sebagai janji bahwa akar peradaban tak akan pernah menyerah kepada pemerintahan kota yang miskin imajinasi
Surabaya, 21 Mei 2026
Chrisman Hadi
Ketua Dewan Kesenian Surabaya
"Isi tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan redaksi" (red).
