Dinding Lapuk dan Atap Bambu Roboh Sekejap, Janda Sebatang Kara di Ponorogo Berhasil Selamat Secara Ajaib
Dinding Lapuk dan Atap Bambu Roboh Sekejap, Janda Sebatang Kara di Ponorogo Berhasil Selamat Secara Ajaib
PONOROGO, Media Jatim News - Tak ada angin, tak ada hujan. Malam yang senyap di Dukuh Banyon, Desa Nglewan, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa pada Minggu (2/8/2026) malam.
Sebuah rumah sederhana milik Mbah Kademi (55), seorang janda yang hidup sebatang kara, tiba-tiba roboh dan rata dengan tanah. Di tengah puing-puing bangunan yang hancur, keajaiban terjadi, sang pemilik rumah berhasil selamat tanpa luka berarti.
Bermalam di Bawah Atap Lapuk, Berjuang demi Sesuap Nasi
Selama bertahun-tahun, Mbah Kademi menjalani hidupnya dalam kesendirian. Tanpa kehadiran anak dan telah berpisah dari sang suami, wanita paruh baya ini menggantungkan nasibnya sebagai buruh tani.
Dari rupiah demi rupiah hasil memeras keringat di sawah orang, ia bertahan hidup, meski tak pernah cukup untuk sekadar memperbaiki atap rumahnya yang kian lapuk dimakan usia.
Atap berangka bambu dan kayu glugu (pohon kelapa) yang lapuk itu akhirnya tak lagi sanggup bertahan.
Malam itu, struktur bangunan tua tersebut menyerah pada sang waktu. Bangunan roboh seketika, mengubur ingatan dan tempat berteduh satu-satunya milik Mbah Kademi.
Ditemukan Gemetar di Sudut Rumah yang Runtuh
Saat gemuruh kayu dan debu membubung tinggi, warga sekitar yang panik langsung berhamburan ke lokasi. Harapan sempat membiru mengingat Mbah Kademi berada di dalam rumah saat peristiwa itu terjadi.
Beruntung, kemujuran masih menaunginya. Warga berhasil menemukan Mbah Kademi meringkuk di sudut ruangan yang selamat dari reruntuhan. Meski mengalami syok berat dan ketakutan hebat, ia berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Sekretaris Desa Nglewan, Panti Siswanto, menceritakan detik-detik menegangkan saat warga menyelamatkan Mbah Kademi.
"Saat rumah roboh, Bu Kademi berada di dalam. Alhamdulillah beliau selamat meski sempat syok ketika ditemukan warga di sudut rumah yang sudah ambruk. Dugaan sementara, bangunan roboh karena usia rumah yang sudah tua dan kondisi rangka atap dari bambu serta kayu glugu sudah lapuk," ujar Panti.
Kerugian material akibat musibah ini ditaksir mencapai Rp25 juta. Sebuah angka yang sangat besar bagi seorang buruh tani sebatang kara.
Harapan Bangkit dari Puing-Puing Musibah
Kini, Mbah Kademi tak lagi memiliki tempat untuk pulang. Untuk sementara waktu, ia menumpang di rumah kerabatnya yang tak jauh dari lokasi.
Meski atap dan rangka rumahnya hancur lebur, dinding bangunan dinilai masih cukup kokoh untuk dimanfaatkan kembali. Pemerintah Desa Nglewan bersama warga sekitar kini tengah bahu-membahu dan membuka pintu bantuan agar rumah Mbah Kademi bisa kembali berdiri.
"Pemerintah desa bersama masyarakat akan berupaya mencarikan bantuan agar rumah Bu Kademi bisa dibangun kembali. Kami berharap ada bantuan dari berbagai pihak agar beliau bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak," tutur Panti penuh harap.
Belajar dari kejadian pilu ini, pihak pemerintah desa juga mengimbau seluruh warga, terutama yang memiliki bangunan tua, untuk rutin memeriksa rangka atap rumah demi mengantisipasi kejadian serupa.
Bagi Mbah Kademi, malam itu adalah ujian berat. Namun di balik puing-puing kayu yang patah, terselip kepedulian warga dan harapan besar agar wanita sebatang kara ini bisa kembali mengetuk pintu rumahnya sendiri. (nuryasin).
